Padahal ayam belum sempat ngeluh pada matahari
aku sudah dibangunkannya, tergesa,
dengan baju setengah rapi,
mata setengah nyala, dompet setengah bernyawa
"Kita gas lagi!" katanya, selalu,
seolah kopi lebih setia daripada mimpi
Aku hafal jalan menuju tempat kerjanya,
lebih baik daripada jalan menuju cita-citanya
tiap pagi kita tembus lautan manusia
yang berlomba melawan zaman demi sesuap nasib,
dengan kecepatan rata-rata di bawah kenaikan harga
Lalu aku menunggu berjam-jam,
bersama yang lain, para pengangkut mimpi kaum kerja,
kaum lelah, kaum pejuang rejeki
Sore tiba dengan langkahnya yang berat
mungkin karena kerjaan, mungkin karena tagihan,
mungkin karena keduanya yang sedang kerjasama
;memastikan hidup tetap penuh tekanan
lantas gas, melewati gedung-gedung benderang
yang seolah mengejek
"Kerjalah lebih ngebut lagi, haha!
agar suatu hari terbeli yang hari ini kau kagumi"
Sampai di rumah, anak istri menyambutnya
untuk sesaat, hati yang seharian terhimpit
tersenyum, lega
karena alasan selalu gas sebelum kopi,
bukanlah kantor, bukan pula gengsi
tapi senyum wajah-wajah di rumah itu,
yang membuat lelah jadi masuk akal
dan harapan terus tetap harus dicicil

No comments:
Post a Comment