Monday, September 21, 2026

Rumah Tambun yang Tua

Pada pagar dan batunya
banyak sepi tumbuh, gelantungan

Tawa canda "beli dulu rokok"
tinggal kusam pada jendela dan tembok

Air mata "angkat dulu cucian"
tinggal lantai dua yang bocor gentengnya

; Jiwanya sudah tidak ada
sudah pindah ke atas sana

Tuesday, September 15, 2026

Lari Pagi

Aku lari, membelah gang sempit
dinding-dindingnya mabuk puisi,
catnya lepas, seperti serpihan kulit 
sesekali motor melintas, mengiris sunyi

Selokan penuh bungkus mi, puntung-puntung sajak,
dan sisa malam yang tak sempat mandi
sementara tikus got pecah di aspal yang sesak
entah ulah motor, atau terlindas sunyi tadi

Aku terus berlari

Bicara dengan bayang sendiri
ditemani temaram yang belum mati
dan aroma got yang menusuk
tanpa permisi, tanpa basa-basi

Aku masih berlari,
napas memburu
keringat campur debu
menginjak kenangan yang keruh

ahh hidup memang kasar,
belepotan,
kadang bising, kadang bau
seperti jalur yang kulewati

Tapi aku tetap berlari
mengejar pagi
yang bangun dari runtuhnya mimpi


Friday, September 11, 2026

Golgota

Kayu itu dipikul ke atas
sementara di bawah
semua sibuk hitung pajak

Darah menetes di aspal
ditutup spanduk janji
agar bukit terlihat rapi

Ia jatuh tiga kali
tak ada yang peduli
semua sibuk memaki

Di ujung jalan,
salib menantang awan 
seperti kekuasaan
dan penderitaan
memeluk kesunyian

Wednesday, September 9, 2026

Cucur habis dimakan

Satu cucur dibagi empat
empat cucur dibagi delapan
delapan dibagi rapat
rapat dibagi anggaran

Friday, September 4, 2026

Sederhana

Hai Nak, aku sampai!
ini, bapak bawa nasib
untuk kita makan
sambil nonton bulan

Ah! rumah memang ramah
apalagi saat kau lari-lari kecil
sambil tersenyum mungil
mengitariku, melepas rindu
 
Aku jadi lupa keringat
lupa hati yang berat
dan hampir juga ku lupa
nasib tadi
harus kita bagi tiga

apalah arti bintang di dada ini dan ijazah-ijazah yang bergelantungan di tembok jika sawah-sawah makin sempit dan ayah terbaring kena depresi lalu kulihat ibu termangu antara kompor yang kering atau kembali ke pawon : hening
apalah arti bintang di dada ini dan ijazah-ijazah yang bergelantungan di tembok jika sawah-sawah makin sempit dan ayah terbaring kena depresi lalu kulihat ibu termangu antara kompor yang kering atau kembali ke pawon : hening
apalah arti bintang di dada ini dan ijazah-ijazah yang bergelantungan di tembok jika sawah-sawah makin sempit dan ayah terbaring kena depresi lalu kulihat ibu termangu antara kompor yang kering atau kembali ke pawon : hening

Tuesday, September 1, 2026

POV Kuda Besi

Padahal ayam belum sempat ngeluh pada matahari
aku sudah dibangunkannya, tergesa, 
dengan baju setengah rapi, 
mata setengah nyala, dompet setengah bernyawa
"Kita gas lagi!" katanya, selalu, 
seolah kopi lebih setia daripada mimpi

Aku hafal jalan menuju tempat kerjanya,
lebih baik daripada jalan menuju cita-citanya
tiap pagi kita tembus lautan manusia 
yang berlomba melawan zaman demi sesuap nasib, 
dengan kecepatan rata-rata di bawah kenaikan harga

Lalu aku menunggu berjam-jam, 
bersama yang lain, para pengangkut mimpi kaum kerja, 
kaum lelah, kaum pejuang rejeki

Sore tiba dengan langkahnya yang berat
mungkin karena kerjaan, mungkin karena tagihan,
mungkin karena keduanya yang sedang kerjasama
;memastikan hidup tetap penuh tekanan

lantas gas, melewati gedung-gedung benderang
yang seolah mengejek
"Kerjalah lebih ngebut lagi, haha!
agar suatu hari terbeli yang hari ini kau kagumi"

Sampai di rumah, anak istri menyambutnya
untuk sesaat, hati yang seharian terhimpit 
tersenyum, lega
karena alasan selalu gas sebelum kopi, 
bukanlah kantor, bukan pula gengsi
tapi senyum wajah-wajah di rumah itu, 
yang membuat lelah jadi masuk akal
dan harapan terus tetap harus dicicil

Heavy 7th Beersday


Today the sun smiles brightly
little princess growing more lovely
seven candles now shine glow
accompany our prayers and love that never go