banyak sepi tumbuh, gelantungan
Tawa canda "beli dulu rokok"
tinggal kusam pada jendela dan tembok
Air mata "angkat dulu cucian"
tinggal lantai dua yang bocor gentengnya
; Jiwanya sudah tidak ada
sudah pindah ke atas sana
Lolongan kata
Aku lari, membelah gang sempit
dinding-dindingnya mabuk puisi,
catnya lepas, seperti serpihan kulit
sesekali motor melintas, mengiris sunyi
Selokan penuh bungkus mi, puntung-puntung sajak,
dan sisa malam yang tak sempat mandi
sementara tikus got pecah di aspal yang sesak
entah ulah motor, atau terlindas sunyi tadi
Aku terus berlari
Bicara dengan bayang sendiri
ditemani temaram yang belum mati
dan aroma got yang menusuk
tanpa permisi, tanpa basa-basi
Aku masih berlari,
napas memburu
keringat campur debu
menginjak kenangan yang keruh
ahh hidup memang kasar,
belepotan,
kadang bising, kadang bau
seperti jalur yang kulewati
Tapi aku tetap berlari
mengejar pagi
yang bangun dari runtuhnya mimpi